Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Selamat tinggal, Ditya.

Mungkin dulu, aku terlalu naif untuk mengakui Akui semua rasa yang tersimpan dalam hati Mungkin sebelum saat ini aku masih menanti Tanpa aku sadari mungkin jauh dari ini Kaulah orang yang aku sakiti Kamu adalah matahari yang ingin kumiliki, Tanpa berani ku menghampiri Kini satu yang kusadari Matahari itu seharusnya di langit tinggi Layaknya Cyltie yang menanti Setianya pada Helios tak tertandingi Menjadi bunga matahari adalah bukti Bahwa cinta sejati tak harus memiliki. Aku tak mampu menjadi Cyltie Yang menyimpan cinta suci Kini tiba saatnya aku tuk kukatakan, Selamat Tinggal, Aditya Kurniawan.

Sapaanku pagi ini untukmu

Kilas jingganya mulai menerangi bumi Sinarnya hangatkan jiwa ini Mata ini silau dibuatnya Namun pandangnya bukan pada Ia Menerawang jauh bermeter-meter di depannya Mengimpikan dirinya ada didepannya Namun yang terlihat hanya awan yang melukisan matanya Mata dengan kilat kacanya Kenapa jarak menjadi pemisah antara nyata dan semu Kenapa jarak menimbulkan rasa terpedih ini Rasa dengan gelombang penuh sesakkan jiwa Inikah yang disebut rindu? Wahai mentari timurku.. Ku sampaikan Selamat pagi Dan Selamat Berkerja... Dengan sehirup kopi dicantiknya alam ini

Satu hari di bulan mei

Hai kamu... Terimakasih untuk kesempatan pertama dan terakhir ini. 8 jam yang berkesan untuk ku ingat. Setiap detik yang kita lewati akan kusimpan Ku ingat setiap detilnya seakan esok tak akan ada Ya memang esok tak akan adalagi kesempatan itu Kau buat senyumku mengembang sepanjang hari Kau buat diri ini semangat kembali Semangat karna kau ada. Kau yang ada disebelahku. Sudah kunanti hari ini begitu panjang. Semua terbayarkan pada akhir ini. Walau pada akhir yang bahkan sebenarnya sebuah awal. Awalan yang takkan pernah ada kedua. Kau menjadi penutup senja ku. Pada masa ku yang telah usai, Yang tetap berharap cemas ingin berjumpa sekali lagi Untuk mengatakan Terimakasih dan Sampai jumpa.

Namanya... Dzakiy.

Ingatan ku mengulang pada masa itu. Pertemuan singkat yang hanya sekejap mata. Satu ruangan kecil yang mengantarku pada lantai ini. Lift, saksi bisu awal tatapan itu bertemu. Padamu yang kukira hanya becanda. Namun rasa ini terlalu dalam ku akui. Padamu yang hanya dapat ku pandang, Dengan sudut mata yang selalu jeli mengawasi. Andai mata ini tak jatuh ke hati, Mungkin aku dengan mudah bertegur sapa. Andai bibir ini mampu bergerak, Mungkin telah ku utarakan maksud hati ini. Padamu yang sebentar lagi akan jauh dari pandangan. Semogalah kita dipertemukan kembali.

One step closer to be graduates!

Gerbang kelulusan itu pada masa putih abu telah terlewati. Tapak kaki tertorehkan dalam jembatan pelangi. Berwarna indah melambat menjadi aspal panas. Aspal pada jalan berliku, menuju cahaya. Angin segar sayup sayup berhembus di nadi ini. Namun tubuh ini menjadi kaku. Bagai badai salju sedang menerpaku. Aku terhuyung dalam jurang terjal. Jatuh aku tidak. Berdiri dikenyamanan kapuk pun aku tidak. Berharap sang perkasa menopang ku. Tapi hanya diriku yang dapat menopang tubuhku ini. Diri ini hanya ingin berpijak pada aspal. Membawaku terus berlari pada gapura keindahan para pelajar. Hanya para maha yang memang memiliki kemegahan itu. Yang sanggup bertahan pada badai diujung jurang. Dan aku harap akulah salah satunya. Kuatkan ku pada doa-doa disujudmu, wahai para petua.

Laki-laki itu

Bagai hawa yang memerlukan adam. Aku memerlukannya untuk menemani ku hingga akhir usia. Dia, yang ku kira akan jadi sayap ku untuk terbang, Dia yang ku kira adalah tameng dari kejamnya pedang yang mencoba menusukku. Dia yang ku kira sebuah otak yang siap menyambungkan sel-sel tidur ku agar tetap berguna baik. Dia yang ku kira sebagai tempat ku untuk menetap tanpa ingin beranjak walau sejenak. Dia, sempurna dalam khayalan ku Tapi semu dalam nyata