Makan Siang

Ini pertama kalinya sang mantan mengajak aku untuk makan siang bareng. Dia menjemputku tepat setengah jam sebelum jam makan siang berdentang. Aku yang sejak tadi gelisah karena takut ketauan sama teman-temanku, terutama Sultan, makan siang dengan mantan, segera kabur dari kantor ketika turun ke ruangan, dan semua masih sepi.

Aku hanya bertemu dengan salah satu temanku. Dan aku cuma titip pesan, “Kalau Sultan cariin aku, bilang aja gatau. Aku makan dulu sama Dipo ya, Mba.”. Dengan secepat kilat aku langsung lari menuju pintu keluar mobil. Di sana Xenia Silver sudah menungguku.

“Maaf ya lama nunggunya.”, “Gapapa kok, Mo.”. Dia selalu sabar nunggu aku dan memaklumi apapun yang aku lakukan. “Cape ya kerjanya? Sibuk banget kayanya kamu? Aku ganggu kamu ya, dengan ngajak kamu makan di luar saat ini?”, kamu masih saja sama po, penuh kekhawatiran dan ga enakkan. Padahal aku sudah di samping kamu lho. Aku menggeleng, “Aku senang dengan pekerjaanku, hanya saja tadi aku harus memastikan tidak ada yang lihat aku kabur sebelum jam makan siang.”, “Maaf ya, Mo. Kamu jadi harus kucing-kucingan.”, “It’s okay, Po. Aku cuma gamau nanti akan ada gosip lain lagi. Toh aku juga sudah laper banget.”, “Makasih ya, Mo.”. Senyummu, aku hanya menepuk-nepuk lembut tanganmu, memastikan bahwa kamu tidak salah, dan aku bahagia memilih kamu.

Baik, kita menyusuri jalan TB. Simatupang, dan berbelok di jalan RS. Fatmawati Raya, hingga akhirnya kita berakhir di salah satu pusat perbelanjaan, yang lebih familiar disebut Mall. Sesampainya di restaurant kesukaan Sultan, aku memesan beberapa menu yang sesuai rekomendasi Sultan. Hei, Mo. Kamu kenapa sih malah masuk ke dunia Sultan, saat sedang bersama Dipo, ini ga adil buat dia tau ga, gerutuku dalam hati. Maaf ya, Po. Tapi aku sangat percaya selera Sultan, dan aku gatau kemana dan makan apa kalo di sini, kalo bukan di resto ini yang sudah kejamin enaknya.

Baru saja aku duduk, dan tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata beberapa panggilan tidak terjawab dari Sultan. Dan ada beberapa pesan dari Mba, “Kamu dimana?”. “Di resto mba, gue makan siang sama Dipo,” jawabku jujur. “Hah? Gila lu ya, Mo. Sultan nyariin lu terus nih, ngamuk-ngamuk dia. Cepet pulang.” balas Mba memberitahuku bahwa keadaan menjadi genting. “Iya mba nanti ya selesai jam makan siang.”

HP-ku terus berdering, belasan panggilan dari Sultan. Tadinya tak ingin aku angkat telpon itu. Namun, Dipo menyarankan aku mengangkat telpon itu, menurut-nya siapa tahu ada kerjaan yang penting. Baiklah aku turuti saya saran Dipo, walau aku yakin betul semua kerjaan sudah aman sebelum ku tinggalkan. “Oh bagus ya kabur, dimana lu sekarang.” telingaku langsung disambut sentakan dari tempat nan jauh di sana. “Makan siang.” jawabku singkat. “Sama siapa lu.” tanya-nya yang ku yakin dia sudah tahu aku pergi dengan siapa. “Ada temen.” masih saja aku mencoba tetap tidak mengakui. “Balik sekarang juga, atau gua kasih kerjaan yang lebih lagi nanti sore.” perintahnya dan aku melawan “tapi ini udah jam makan siang, dan baru banget pesen, makanannya belum jadi.”. “Ke kantor sekarang atau ngga usah sama sekali.” telepon terputus. Aku merasa kesal dengan tingkah Sultan kali ini, seperti tidak punya rasa kemanusiaan. Dipo melihatku dengan tanda tanya, dia paham, dia mengajakku pulang. Namun ku tolak, karena aku merasa tidak enak sekali dengan Dipo. Kita benar-benar baru saja duduk. “Aku gamau balik sebelum jam 1 siang. Dia siapa atur-atur hidup aku, sekali ini aja aku mau bandel dengan ga nurutin apa kemauan dia. Toh aku yakin ini hanya becandaan dia, aku di kantor juga ngga ngapa-ngapain.” balasku dengan nada kesal. “Walaupun ini hanya becanda, tapi dia atasan kamu. Nanti ini akan berdampak sama karir kamu. Kita minta dibungkus aja ya.” lalu Dipo beranjak ke meja kasir untuk bayar dan meminta pesanannya dibungkus. “Udah jangan bete gitu, nanti lain waktu ya, mungkin belum tepat buat hari ini. Yuk pulang.” Dipo kamu selalu saja mau ngalah dengan Sultan.

Diperjalanan balik ke kantor, aku harap kantorku terlalu jauh untuk terlalu cepat sampai. Dipo menurunkan aku depan kantor. Dan dia meminta maaf karena telah mengajakku makan siang, padahal itu bukanlah sebuah kesalahan. Sesampaiku dibalik meja, ruangan sepi, teman-temanku memilih makan di luar semua, hanya ada Mba yang tersisa, karena dia baru selesai meeting pada saat itu. “Darimana aja sih lu, emang lu ga bilang mau pergi keluar.”, “Duh mba udah gila kalau gua cerita sama dia gua pergi sama siapa.”, “iya sih serba salah ya lu.”. “Dia kemana?” tanyaku dan hanya dijawab dengan gerakan bahu terangkat. Ku coba telp Sultan menginformasikan bahwa aku sudah tiba di kantor, duduk cantik di mejaku. “Dimana? Udah di kantor nih, lu malah ga ada. Tahu gitu ga balik nih gua.”. “Kantin, tunggu situ, jangan kemana-mana, selangkah lu berangjak dari meja lu, abis lu sama gua.” ancamnya yang membuatku hanya tambah kesal. Pintu terbuka, “Enak makannya Mo? Bagus lu yak, keluar sebelum jam-nya. Ninggalin gua. Dan ngapain lu pergi sama dia.” pertanda buruk. “Ya kan emang gua harus bilang sama lu? Lu juga lagi meeting, gua udah laper, ya gua makan siang ajalah. Nanti sore gua balik lebih malam buat nebus jam makan siang yang kecepetan ini.” tantangku. “Ngga ada! Lu mau balikan lagi sama dia? Besok-besok, kalau mau pergi sama dia lu harus ajak gua.” Cuma bisa bengong, hal yang ga mungkin ku lakukan. Tapi aku tahu, Sultan ga akan mau juga ketika nanti aku ajak ketemu dengan Dipo. Dia cuma tidak setuju bila aku menjalin hubungan dengan Dipo. Baginya, hubungan aku dan Dipo hanyalah sebuah kesalahan, dan ketidakharusan.

“Udah ya Mo, ini pertama dan terakhir lu pergi sama mantan lu itu. Gua juga ga setuju lu sama dia. Yang dikatakan Sultan benar ko. Dia baik Mo, jaga lu biar lu ga salah jalan.” nasihat singkat dari Mba yang mendengar perdebatan aku dan Sultan siang itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya... Dzakiy.

One step closer to be graduates!

Selamat tinggal, Ditya.